PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA
A. Awal Masuknya Islam di Indonesia
Ketika Islam datang di Indonesia,
berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha,
sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa wilayah kepulauan
Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha.
Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa
Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya. Namun Islam datang ke
wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam datang dengan
membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia (tidak ada kasta),
menghilangkan perbudakan dan yang paling penting juga adalah masuk kedalam
Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada
paksaan.
Tentang kapan Islam datang masuk ke Indonesia,
menurut kesimpulan seminar “ masuknya Islam di Indonesia” pada tanggal 17 s.d
20 Maret 1963 di Medan, Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah
atau pada abad ke tujuh masehi. Menurut sumber lain menyebutkan bahwa Islam
sudah mulai ekspedisinya ke Nusantara pada masa Khulafaur Rasyidin (masa
pemerintahan Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin
Abi Thalib), disebarkan langsung dari Madinah.
B. Cara Masuknya Islam di Indonesia
Adapun cara masuknya Islam di Indonesia melalui beberapa cara
antara lain ;
1. Perdagangan
Jalur ini dimungkinkan karena
orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang dengan orang Arab. Apalagi
setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Malaka dan kerajaan
Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama dan pedagang Arab datang
ke Nusantara (Indonesia). Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka
mencari keuntungan rohani yaitu dengan menyiarkan Islam. Artinya mereka
berdagang sambil menyiarkan agama Islam.
2. Kultural
Artinya penyebaran Islam di Indonesia
juga menggunakan media-media kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan oleh para
wali sanga di pulau jawa. Misalnya Sunan Kali Jaga dengan pengembangan kesenian
wayang. Ia mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang yang bertema Hindu dengan
ajaran Islam. Sunan Muria dengan pengembangan gamelannya. Kedua kesenian
tersebut masih digunakan dan digemari masyarakat Indonesia khususnya jawa
sampai sekarang. Sedang Sunan Giri menciptakan banyak sekali mainan anak-anak,
seperti jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.
3. Pendidikan
Pesantren merupakan salah satu lembaga
pendidikan yang paling strategis dalam pengembangan Islam di Indonesia. Para
da’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh pelosok Nusantara adalah
keluaran pesantren tersebut. Datuk Ribandang yang mengislamkan kerajaan
Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri.
Santri-santri Sunan Giri menyebar ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean,
Madura, Haruku, Ternate, hingga ke Nusa Tenggara. Dan sampai sekarang pesantren
terbukti sangat strategis dalam memerankan kendali penyebaran Islam di seluruh
Indonesia.
4. Kekuasaan Politik
Artinya penyebaran Islam di Nusantara,
tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para Sultan. Di pulau Jawa,
misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung
perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara. Raja
Gowa-Tallo di Sulawesi selatan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan
oleh Demak di Jawa. Dan para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi,
bahu membahu dan tolong menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara.
Keadaan ini menjadi cikal bakal tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa
mendatang.
Proses masuknya agama Islam di Indonesia sangat berhubungan
erat dengan kegiatan perdagangan rempah – rempah yang dilakukan antara bangsa
Barat dengan bangsa Timur. Dan kedudukan Bangsa Arab yang menyebarkan agama
Islam, dalam kegiatan perdagangan ini berperan sebagai perantara. Para pedagang
/ Saudagar Arab dalam melakukan perjalanan ke Indonesia untuk mencari rempah –
rempah, diawali datang ke India, membeli rempah – rempah di India yang berasal
dari Indonesia. Akhirnya lama – kelamaan bangsa Arab dan bangsa India datang
bersama – sama ke Indonesia .
Dalam hubungan ini bangsa Arab yang berperan adalah mereka
yang tinggal di wilayah Arab Selatan, atau Yaman dan Hadhramaut. Wilayah ini
sudah masuk Islam pada waktu Nabi Muhammad saw masih hidup, yaitu pada waktu
Badzan Al faritsy menjadi Gubernur Yaman. Daerah Yaman dan Hadhramaut kemudian
menjadi provinsi dari Negara Islam. Di daerah ini Nabi Muhammad saw mengutus
dua orang guru agama Islam yaitu : Mua’adz bin Jabal dan Abu Musa Al Asy’ari.
Sejak
datangnya Saiyid Ahmad Syihabudin di wilayah Yaman dan Hadramaut, penduduk
daerah ini menjadi bersemangat dalam berdakwah. Saiyid Ahmad Syihabudin adalah
seorang keturunan Nabi Muhammad saw, yang meninggalkan kota Nedjf, kampung
halamannya, pergi dari kota Nedjf untuk menyelamatkan diri dari fitnah aliran
Mu’tazilah pada masa Al Ma’mun menjadi khalifah.
Para
pedagang sekaligus mubaligh dari bangsa Arab itu kemudian datang ke Indonesia
dengan membawa barang dagangan, diantaranya tekstil dari Mesir. Mereka sampai
di Indonesia kemudian menjual barang dagangannya , lalu membeli barang dagangan
sebagai gantinya yaitu : rempah – rempah. Sambil menunggu angin muson untuk
membawa kapal berlayar kembali ke Arab , para pedagang Arab melakukan integrasi
dengan penduduk Indonesia. Hubungan pergaulan dan perkenalan yang terjalin
dalam waktu yang lama dan perilaku simpatik dari para pedagang Arab,
menimbulkan hasil integrasi antara lain dengan pernikahan.
Hal ini dapat dilihat dalam perjuangan Partai Arab Indonesia
, yang dipimpin oleh Abdur Rahman Baswedan pada tahun 1935. Mereka
memperjuangkan hak untuk diberi status sebagai Putera Indonesia Asli ( bukan
sebagai keturunan asing : Cina dan India ) dengan alasan bahwa mereka adalah
keturunan Ibu – Ibu Indonesia asli, dan hanya ayahnya saja yang berasal dari
Arab yang datang ke Indonesia dengan tidak membawa keluarga.
Selanjutnya pada abad ke – 16 setelah agama Islam tersebar
di Indonesia, mulailah bangsa Indonesia kedatangan kaum Imperialis, seperti
bangsa Portugis, Belanda dan Inggris. Bangsa Portugis mendarat di Malaka pada
tahun 1511, Belanda mendarat di Banten pada tahun 1596 dan Inggris mendarat di
Jakarta pada tahun 1617. Sejak itu mereka saling memperebutkan pasar
rempah-rempah dan tempat yang strategis di dunia Timur, mulai dari Afrika
Selatan, kemudian India dan Asia Tenggara. Persaingan antar bangsa Barat
diakhiri dengan Traktat London pada tahun 1824, yang berisi :
1.
Indonesia diserahkan kepada Belanda
2.
Wilayah luar Indonesia diserahkan kepada Inggris
Belanda meninggalkan Malaka, Ceylan dan Afrika Selatan.
Inggris harus meninggalkan Indonesia. Raffless berangkat ke Singapura dan
menguasainya. James Broke berangkat menuju Brunei, di Kalimantan Utara dan
menjadikan wilayah ini terpisah dari wilayah Indonesia. Belanda khawatir akan terjadi
hal serupa di daerah perbatasan, maka melaksanakan anjuran JPG Westhoff , untuk
menguasai rakyat Indonesia perlu dilaksanakan Kristenisasi dengan merangkul
wilayah perbatasan seperti Sulawesi Utara, ( Minahasa ) , kepulauan Maluku dan
Timor, yang berbatasan dengan Portugis. Gereja – gereja dibangun di perbatasan
serta ditempatkan pula serdadu untuk mengawasi Inggris.
Selanjutnya Belanda mulai melaksanakan praktek kolonialisme
di Indonesia. Muncullah perlawanan dari bangsa Indonesia seperti Pangeran Diponegoro,
Imam Bonjol, Sultan Hasanudin dll. Untuk wilayah perbatasan Barat laut (
Sumatera Utara ) setelah Traktat London , Belanda menghadapi Perang Paderi.
sebelum dilaksanakan perang Paderi , diusahakan pembendungan bantuan dari Aceh
oleh Raffles, dengan meng-Kristen-kan Tanah Batak, agar Minangkabau yang sedang
bergolak ( Perang Paderi ) tidak mendapat bantuan dari Aceh.
Usaha penyebaran agama Kristen yang dilakukan oleh Belanda
di Indonesia dilaksanakan dengan maksud politik, sehingga rakyat yang menjadi
obyeknya tidak selamanya diajak masuk Kristen secara baik-baik, tetapi sering
juga dengan tipu – daya dan kekerasan, sehingga kaum muslimin merasa
dirongrong; mereka mengadakan jihad, tetapi Belanda lebih kuat, sehingga
perjuangan gagal.Kegagalan dalam perjuangan tersebut menyebabkan kaum muslimin
Indonesia secara besar-besaran hijrah ke Tanah Suci Mekah dan Madinah, karena
tidak bersedia untuk dijajah oleh Belanda. Maka pada abad ke – 19 terbentuklah
masyarakat Indonesia di Mekah yang dikenal dengan sebutan ” Jawi ” , mereka
belajar di Masjidil Haram, sehingga banyak diantara mereka kemudian menjadi
ulama-ulama Jawi.
MUNCULNYA ALIRAN – ALIRAN ISLAM MODERN DI INDONESIA
Pada awal abad ke – 20 muncul gerakan Wahabi yang dipimpin
oleh raja Abdul Aziz Ibn Saud, ketenangan tanah suci Mekah menjadi terganggu.
Dan hubungan tanah suci Mekah dengan Indonesia kemudian terputus, karena
terjadi Perang Dunia I tahun 1914 – 1918. Maka dalam kondisi yang demikian
banyak ulam-ulama Jawi yang kembali ke Indonesia, dan kemudian menyebarkan
ilmunya ke seluruh Indonesia tahun 1916 .
Untuk menampung ulama – ulama itu, sebagai wadahnya pada
waktu itu di Indonesia sudah ada Jam’iyatul Chair yang berpusat di Jakarta
dengan cabang – cabangnya , Ar Robithah Al Alawiyah , Al Irsyad dan SI (
Sarikat Islam ), dan juga Muhammadiyah yang berpusat di Yogyakarta. Ulama –
ulama Jawi pada awalnya menggabungkan diri dengan SI ( Sarikat Islam ) kemudian
setelah SI terpecah menjadi Si Merah yang bercorak komunis dan SI Putih yang
murni, maka ulama – ulama Jawi akhirnya meninggalkan SI karena Belanda
mencurigai seluruh SI akibat SI Merah melakukan kekacauan. Ulama – ulama Jawi
akhirnya membentuk organisasi sendiri. Dan karena Belanda membatasi gerak
Jam’iyatul Choir, maka muncullah organisasi – organisasi Islam dengan nama yang
bermacam – macam di seluruh Indonesia, sebagai perwujudan lahirnya alam pikiran
Islam Modern di Indonesia.
ORGANISASI-ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA
1. Sarekat Islam (SI)
Sarekat Islam (SI) pada awalnya adalah perkumpulan bagi para
pedagang muslim yang didirikan pada akhir tahun 1911 di Solo oleh H. Samanhudi.
Nama semula adalah Sarekat Dagang Islam (SDI). Kemudian tanggal 10 Nopember
1912 berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI). H.Umar Said Cokroaminoto diangkat
sebagai ketua, sedangkan H.Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Latar belakang
didirikannya organisasi ini pada awalnya untuk menghimpun dan memajukan para
pedagang Islam dalam rangka bersaing dengan para pedagang asing, dan juga
membentengi kaum muslimin dari gerakan penyebaran agama Kristen yang semakin
merajalela. Dengan nama Sarekat Islam dibawah pimpinan H.O.S. Cokroaminoto
organisasi ini semakin berkembang karena mendapat sambutan yang luar biasa dari
masyarakat. Daya tarik utamanya adalah asas keislamannya. Dengan SI mereka
(umat Islam) yakin akan dibela kepentingannya.
Keanggotaan SI terbuka untuk semua golongan dan suku bangsa yang
beragama Islam. Berbeda dengan Budi Utomo yang membatasi keanggotaannya pada
suku bangsa tertentu (Jawa). Sehingga banyak sejarawan mengatakan bahwa tanggal
berdirinya SI ini lebih tepat disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan
bukan tahun 1908 dengan patokan berdirinya Budi Utomo. Karena ruang lingkup
Budi Utomo hanyalah pulau Jawa, bahkan hanya etnis Jawa Priyayi. Sedangkan SI
mempunyai cabang-cabang di seluruh Indonesia. Jadi layak disebut “Nasional”.
Secara lahir SI tidak menyatakan diri sebagai organisasi partai
politik. Tetapi dalam sepak terjangnya jelas kelihatan sebagai organisasi
politik. Kegiatan politik dilakukan dengan sangat hati-hati dan bertahap. Dalam
kongres tahun 1914, Cokroaminoto mengatakan bahwa SI akan bekerjasama
(kooperatif) dengan pemerintah dan tidak berniat melawan pemerintah. Dua tahun
kemudian dalam kongresnya di Bandung, dia melancarkan kritik terhadap praktek
kolonialisme yang telah menyengsarakan rakyat. Dalam kongres itu SI menuntut
supaya Indonesia diberi pemerintahan sendiri dan rakyat diberi kesempatan untuk
duduk dalam pemerintahan. Semakin lama sikap SI semakin keras. Abdul Muis salah
satu tokoh SI mengatakan, jika tuntutan-tuntutan itu tidak diindahkan
pemerintah (penjajah), anggota SI bersedia membalas kekerasan dengan kekerasan.
Pada waktu pemerintah mendirikan Volksraad (Dewan Rakyat), SI mendudukkan
wakilnya dalam dewan itu, antara lain Cokroaminoto dan H. Agus Salim. Setelah
ternyata Volksrad tidak bisa dipakai sebagai lembaga untuk memperjuangkan
kemerdekaan, SI pun menarik wakilnya. Demikian SI beralih ke strategi
non-kooperatif.
Pada kongres 1917, SI mulai dimasuki pengaruh lain, yaitu dengan
masuknya orang-orang yang berfaham Marxis (komunis) seperti Semaun dan Darsono.
Bahkan pada kongresnya yang ketiga tahun 1918 pengaruh Semaun semakin kuat.
Tetapi SI masih membiarkannya demi persatuan dan kesatuan bangsa yang saat itu
sangat diperlukan dalam menghadapi pemerintah penjajah. Pada tangal 10 Oktober
1921 dalam kongres SI yang ke-6 H. Agus Salim dan Abdul Muis merangkap menjadi
anggota dan pengurus mencetuskan perlunya disiplin partai dalam tubuh SI,
antara lain seorang anggota SI tidak boleh merangkap menjadi anggota atau
pengurus di partai lain. Ini tujuan sebenarnya adalah untuk membersihkan
barisan SI dari unsur-unsur komunis. Dengan disetujuinya gagasan ini akhirnya
Semaun dan Darsono keluar dari SI. Tapi kemudian SI terpecah menjadi dua, yaitu
SI Merah dan SI Putih. SI Merah dipimpin oleh Semaun berpusat di Semarang dan
berazaskan Komunis. Adapun SI Putih dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto berazaskan
Islam.
Pada Kongres SI ke-7. SI Putih berubah nama menjadi Partai
Sarekat Islam (PSI). Pada tahun 1927 nama Partai Sarekat Islam (PSI) ditambah
dengan kata Indonesia, sehingga menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).
Hanya sangat disayangkan partai ini kemudian menjadi terpecah belah. Ada PSII
yang dipimpin oleh Sukiman, PSII Kartosuwiryo, PSII Abikusno, dan PSII H. Agus
Salim.
2. Muhammadiyah
Muhammadiyah secara etimologi artinya pengikut Nabi Muhammad.
Adalah sebuah organisasi non-politis yang bertujuan mengembalikan ajaran Islam
sesuai dengan al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw; memberantas kebiasaan yang
tidak sesuai dengan ajaran agama (bid’ah) dan memajukan ilmu agama Islam di
kalangan anggotanya. Organisasi ini didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di
Yogyakarta pada 18 Nopember 1912. Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah yang baru,
telah disesuaikan dengan UU no.8 tahun 1985 dan hasil Muktamar Muhammadiyah
ke-41 di Surakarta pada tanggal 7-11 Desember 1985, Bab 1 pasal 1 disebutkan
bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang
berakidah Islam dan bersumber pada al-Quran dan Sunnah. Sifat gerakannya adalah
non-politik, tapi tidak melarang anggotanya memasuki partai politik. Hal ini
dicontohkan oleh pendirinya sendiri, KH Ahmad Dahlan, dimana beliau juga adalah
termasuk anggota Sarekat Islam.
Banyak anggota Muhammadiyah yang berjuang baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, masa mempertahankan kemerdekaan, masa Orde Lama, Orde Baru dan Masa Reformasi. Mereka tersebar di berbagai organisasi pergerakan, organisasi partai politik dan lembaga-lembaga negara. Tokoh-tokoh Muhammadiyah yang kita kenal seperti KH. Mas Mansur, Prof. Kahar Muzakir, Dr. Sukirman Wirjosanjoyo adalah para pejuang yang tidak asing lagi. Demikian pula seperti Buya Hamka, KH AR. Fakhruddin, Dr. Amin Rais, Dr. Syafi’i Ma’arif dan Dr. Din Syamsudin adalah tokoh–tokoh Muhammadiyah yang sangat berperan dalam pentas nasional Indonesia.
Banyak anggota Muhammadiyah yang berjuang baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, masa mempertahankan kemerdekaan, masa Orde Lama, Orde Baru dan Masa Reformasi. Mereka tersebar di berbagai organisasi pergerakan, organisasi partai politik dan lembaga-lembaga negara. Tokoh-tokoh Muhammadiyah yang kita kenal seperti KH. Mas Mansur, Prof. Kahar Muzakir, Dr. Sukirman Wirjosanjoyo adalah para pejuang yang tidak asing lagi. Demikian pula seperti Buya Hamka, KH AR. Fakhruddin, Dr. Amin Rais, Dr. Syafi’i Ma’arif dan Dr. Din Syamsudin adalah tokoh–tokoh Muhammadiyah yang sangat berperan dalam pentas nasional Indonesia.
Bidang-bidang
yang ditangani Muhammadiyah antara lain :
a. Sosial
Dalam bidang sosial Muhammadiyah mendirikan :
1) Panti asuhan untuk anak yatim piatu
2) Bank Syari’ah untuk membantu pengusaha lemah
3) Organisasi
wanita yang bernama Aisiyah dan organisassi kepanduan Hizbul wathan, Pemuda
Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan ikatan Pelajar Muhammadiyah
b. Pendidikan
Dalam bidang
pendidikan, Muhammadiyah mendirikan lembaga-lembaga pendidikan mulai dari TK
sampai perguruan tinggi. Data tahun 1985 Muhammadiyah sudah memiliki 12400
lembaga pendidikan yang terdiri dari 37 perguruan tinggi dan sisanya adalah TK
sampai SLTA. Tahun 1990 jumlah perguruan tinggi Muhammadiyah bertambah menjadi
78 buah.
c. Kesehatan
Dalam bidang
kesehatan Muhammadiyah mendirikan Poliklinik, Rumah Sakit dan Rumah Bersalin.
Data tahun 1990 telah memiliki 215 Rumah Sakit, Poliklinik dan Rumah Bersalin.
3. Al Irsyad
Organisasi ini
berdiri tanggal 6 September 1914 di Jakarta, dua tahun setelah Muhammadiyah
berdiri, dan bisa dibilang sebagai sempalan dari Jami’atul Khair. Diantara
tokoh al-Irsyad yang terkenal adalah syeikh Ahmad Surkati, berasal dari Sudan
yang semula adalah pengajar di Jami’atul Khair. Al Irsyad ini mengkhususkan
diri dalam perbaikan (pembaharuan) agama kaum muslimin khususnya keturunan Arab
Sebagian tokoh Muhammadiyah pada awal berdirinya juga adalah kader-kader yang
dibina dalam lembaga pendidikan AlIrsyad. Saat itu al-Irsyad sudah memiliki
Madrasah Awaliyah (3 tahun), Madrasah Ibtidaiyah (4 tahun), Madrasah Tajhiziyah
(2tahun), dan Madrasah Mu’allimin yang dikhususkan untuk mencetak guru.
Al-Irsyad bergerak bukan hanya dalam bidang pendidikan, tapi juga bidang-bidang
lain seperti rumah sakit, panti asuhan dan rumah yatim piatu.
4. Nahdlatul Ulama
(NU) artinya kebangkitan para ulama. Adalah sebuah Organisasi
sosial keagamaan yang dipelopori oleh para ulama atau kiyai. Mereka itu ialah K.H.Hasyim
Asy’ari, K.H.Wahab Hasbullah, K.H.Bisri Syamsuri, K.H.Mas Alwi , dan
K.H.Ridwan. Lahir di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 dan kini menjadi
salah satu organisai dan gerakan Islam terbesar di tanah air. Bertujuan
mengupayakan berlakunya ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunnah Waljama’ah dan
penganut salah satu dari empat mazhab fiqih (Imam Hanafi, Imam Syafi’i, Imam
Hambali dan Imam Maliki).
Pada mulanya NU ini tidak mencampuri urusan politik. Ia lebih
memfokuskan diri pada pengembangan dan pemantapan paham keagamaannya dalam
masyarakat yang saat itu sedang gencar-gencarnya penyebaran faham Wahabiyah
yang dianggap membahayakan paham ahli Sunnah Waljama’ah. Hal ini tersirat dalam
salah satu hasil keputusan kongresnya di Surabaya pada bulan Oktober 1928.
NU semakin berkembang dengan cepat. Pada tahun 1935 telah
memiliki 68 cabang dengan anggota 6700 orang. Pada kongres tahun 1940 di
Surabaya dinyatakan berdirinya organisasi wanita NU atau Muslimat dan Pemuda
Anshar.
Pada perkembangan
selanjutnya, NU mengubah haluannya. Selain sebagai organisasi yang bergerak
dalam bidang sosial keagamaan, juga mulai ikut dalam kehidupan politik. Tahun
1937 bergabung dengan Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI). Hal ini terus
berlangsung sampai dibubarkannya pada masa penjajahan Jepang tahun 1943, yang
kemudian diganti Masyumi. Dalam Masyumi, NU adalah bagian yang sangat penting
sampai tahun 1952. Dalam Muktamarnya yang ke 19 tanggal 1 Mei 1952 menyatakan
diri keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik tersendiri. Kemudian NU
bersama dengan PSII dan Perti membentuk Liga Muslim Indonesia sebagai wadah
kerja sama partai politik dan organisasi Islam. Dalam Pemilu tahun 1955 NU
muncul sebagai partai politik terbesar ke tiga. Pada masa orde baru NU bersama
partai politik lainnya (PSII, Parmusi, Perti) berfungsi dalam Partai Persatuan
Pembangunan (PPP). Kemudian sejak tahun 1984 NU menyatakan diri kembali ke
khittah 1926, artinya melepaskan diri dari kegiatan politik, meskipun secara
pribadi-pribadi anggotanya tetap ikut berkiprah dalam berbagai partai politik.
Pada masa reformasi (1999) para tokoh NU yang dimotori oleh KH.
Abdurrahman Wahid mendirikan partai politik, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
yang kemudian termasuk 5 besar pemenang Pemilu pada tahun tersebut. Melalui
poros tengah, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pemimpin NU saat itu berhasil
menjadi orang nomor satu di RI, meskipun hanya berumur satu tahun. Peranan NU
sebagai organisasi dalam perjuangan mengusir penjajah dan mempertahankan
kemerdekaan tidak diragukan lagi. Bahkan para kyai dan santri memikul senjata
(bambu runcing atau golok) untuk berjihad fi sabilillah. Tercatat dalam sejarah
tanggal 23 Oktober 1945 NU mengeluarkan Resolusi Jihad untuk melawan tentara
penjajah.
5. Persatuan Islam (Persis)
Persis adalah organisasi sosial pendidikan dan keagamaan.
Didirikan pada tanggal 17 September 1923 di Bandung atas prakarsa KH. Zamzam
dan Muhammad Yunus, dua saudagar dari kota Palembang. Organisasi ini diketuai
pertama kali oleh A. Hassan, seorang ulama yang terkenal sebagai teman dialog
Bung Karno ketika ia dipenjara. Bung Karno banyak berdialog dengan A.Hassan
lewat surat-suratnya. Pemikiran-pemikiran keagamaan Bung Karno selain dari HOS
Cokroaminoto, juga banyak berasal dari A.Hassan ini.
Diantara tujuan Persis ini adalah :
a. Mengembalikan
kaum Muslimin kepada Al-Quran dan Sunnah (hadis nabi)
b. Menghidupkan
ruh jihad dan ijtihad dalam kalangan umat Islam
c. Membasmi
bid’ah, khurafat dan takhayul, taklid dan syirik dalam kalangan umat Islam
d. Memperluas
tersiarnya tabligh dan dakwah Islam kepada segenap lapisan masyarakat
e. Mendirikan
Madrasah atau Pesantren untuk mendidik putra-putri Muslim dengan dasar Al-Quran
dan Sunnah.
Menjelang kejatuhan Orde Baru, para pemuda dan mahasiswa atau
pelajar Islam, baik yang tergabung dalam HMI, PMII, PII, IPPNU, KAPI, KAMMI
(Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), GPI (Gerakan Pemuda Islam) dan
Pemuda Anshar turut aktif mengambil bagian dalam menumbangkan Rezim Soeharto.
6. Departemen Agama
Departemen Agama dulu namanya Kementerian Agama. Didirikan pada
masa Kabinet Syahrir yang mengambil keputusan tanggal 3 Januari 1946, dengan
Menteri Agama yang pertama adalah M. Rasyidi. Tujuan dan fungsi Departemen
Agama yang dirumuskan pada tahun 1967 sebagai berikut :
a. Mengurus serta
mengatur pendidikan agama di sekolah-sekolah serta membimbing
perguruan-perguruan agama.
b. Mengikuti dan
memperhatikan hal yang bersangkutan dengan agama dan keagamaan.
c. Memberi
penerangan dan penyuluhan agama.
d. Mengurus dan
mengatur Peradilan Agama serta menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan
hukum agama.
e. Mengatur,
mengurus dan mengawasi penyelenggaraan Ibadah Haji.
f. Mengurus dan
memperkembangkan IAIN, Perguruan Tinggi Agama Swasta dan Pesantren serta
mengurus dan mengawasi pendidikan agama pada perguruan-perguruan tinggi agama
Islam
Fungsi MUI antara
lain :
a. Memberi fatwa
dan nasihat mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan
umat Islam umumnya sebagai amar ma’ruf nahi munkar, dalam usaha meningkatkan
ketahanan nasional.
b. Mempererat
ukhuwah Islamiyah dan memelihara serta meningkatkan suasana kerukunan antar
umat beragama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
c. Mewakili umat
Islam dalam konsultasi antara umat beragama.
d. Penghubung
antara Ulama dan Umara (pemerintah) serta menjadi penerjemah timbal balik
antara pemerintah dan umat guna menyukseskan pembangunan nasional.
Sejak berdiri
sampai saat ini sudah banyak fatwa-fatwa MUI dikeluarkan antara lain menyangkut
a. Hukum natal bersama bagi umat Islam
b. Aliran-aliran Islam sesat di Indonesia
c. Fatwa tentang bunga bank konvensional
d. Fatwa tentang bayi tabung dan inseminasi buatan
e. Fatwa tentang faham pluralisme dan sekularisme
f. Fatwa tentang perkawinan beda agama
Ulama yang pernah
menduduki jabatan ketua MUI antara lain :
a. Prof.Dr. Hamka (1975- 1981)
b. KH. Syukri Ghozali (1981- 1984)
c. KH. EZ. Muttaqien (1984- 1985)
d. KH. Hasan Basri (1985- 1995)
e. H. Amidhan
7. Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
ICMI berdiri pada 7 Desember 1990 sebagai sebuah organisasi yang
menampung para cendekiawan muslim yang mempunyai komitmen pada nilai-nilai
keislaman, tanpa melihat aliran, warna politik dan kelompok. ICMI sebagai wadah
tempat berdialog para intelektual guna memecahkan persoalan-persoalan bangsa.
Organisasi ini pertama kali dipimpin oleh Prof. Dr.BJ. Habibie, kemudian Ahmad
Tirto Sudiro dan Adi Sasono.
DAFTAR PUSTAKA
Khaeruddin. 2004. Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia. CV. Berkah Utami
Zuhairini. 2004. Pengaruh Sistem Pendidikan Islam terhadap Sistem Pendidikan
Nasional. Bumi
Aksara.
ariftahmid.blogspot.com .
ALIRAN – ALIRAN ISLAM DI INDONESIA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar