Akhlak Rasulullah sebagai seorang
manusia secara pribadi, dapat kita teladani dalam kegiatan beliau sehari-hari,
mulai dari cara beliau tidur, makan, minum, berjalan, tersenyum, berbicara,
bergaul, marah, tertawa, dan sebagainya.
Rasulullah
Tidur
Rasulullah biasa tidur di awal malam,
dan bangun di sepertiga malam terakhir. Selain itu, beliau juga melarang kita
untuk menceritakan mimpi yang jelek, dan bersyukur kepada Allah jika bermimpi
indah, serta diperbolehkan untuk menceritakannya kepada yang lain.
Sesungguhnya, kebiasaan bangun di
penghujung malam kemudian melaksanakan shalat malam, memiliki efek positif
terhadap tubuh dan pikiran manusia. Bagaimana tidak, setelah seharian penat
bekerja, disibukkan oleh berbagai kegiatan dan tugas-tugas yang kadang membuat
manusia stres, jiwa manusia memerlukan suatu ‘refreshing’, penenangan, dan
pemulihan semangat. Dengan bangun di penghujung malam yang hening, di saat
kebanyakan orang sedang terlelap tidur dan terbuai di alam mimpinya, kita
bangun untuk mendekatkan diri pada-Nya, mengingat-Nya (dzikrullah)
dan bermuhasabah (introspeksi diri).
Kebiasaan mensyukuri mimpi yang indah
serta menceritakannya kepada yang lain, adalah hal yang baik, karena dengan
bersyukur menyebabkan manusia berpikir positif dan mungkin akan menjadi sugesti
yang baik bagi yang bersangkutan. Sedangkan larangan untuk menceritakan mimpi
yang tidak baik, bertujuan untuk menghindari sugesti yang jelek yang
menyebabkan berkurangnya produktifitas orang yang bersangkutan, dikarenakan
selalu dihantui oleh mimpi jeleknya.
Rasulullah
Makan dan Minum
Rasulullah selalu memulai makan atau
minum dengan membaca basmalah,
menggunakan tangan kanan. Beliau juga sangat memperhatikan kehalalan dan
kesederhanaan makanannya. Rasulullah hanya makan makanan yang dihalalkan
oleh-Nya, sedangkan kesederhanaan yang dimaksud di sini adalah dari segi
jumlahnya, beliau tidak makan berlebihan, beliau makan di saat lapar dan
berhenti sebelum kenyang.
Sesungguhnya, kebiasaan memulai makan
atau minum dengan membaca basmalah, adalah salah satu bentuk syukur kita atas
semua rezeki dan nikmat yang Allah berikan. Menjaga kehalalan dan kesederhanaan
makanan yang kita konsumsi, memiliki efek yang sangat baik terhadap tubuh,
karena makanan yang dihalalkan Allah sudah pasti memiliki kandungan-kandungan
zat yang sangat baik untuk tubuh manusia, begitupun dalam kesederhanaan jumlah
makanan yang masuk ke tubuh, hal ini juga akan berefek pada kerja organ-organ
pencernaan.
Rasulullah
Tersenyum dan Berbicara
Rasulullah adalah seorang yang sangat
mulia akhlaknya, manis sikapnya, dan sangat terjaga ucapannya. Beliau selalu
tersenyum dan menyapa siapa saja yang dijumpainya. Beliau tidak berbicara
kecuali yang penuh manfaat, dan menganjurkan lebih baik diam daripada berbicara
sia-sia. Cara berbicaranya sangat tenang, sehingga ucapannya jelas, dan
tujuannya yang ingin disampaikannya pun bisa dimengerti oleh siapa saja yang
menjadi pendengarnya.
Sesungguhnya, sikap yang ramah dan
murah senyum akan membuat orang lain senang, merasa aman, dan jauh dari
perasaan terancam. Dengan demikian, akan menumbuhkan serta menguatkan tali
silaturahmi. Sedangkan kebiasaan untuk berbicara yang baik akan menghindarkan
manusia dari kecelakaan yang disebabkan oleh lisannya. Begitu juga dengan cara
bicara yang tenang dan jelas, akan membuat pesan yang ingin kita sampaikan
dapat dengan mudah diterima oleh orang yang kita maksud.
Rasulullah
Berjalan dan Bergaul
Rasulullah selalu berjalan dengan
sikap yang wajar dan optimis, tidak bersikap sombong atau takabur di hadapan orang
yang ditemuinya. Beliau selalu mendahului untuk menyapa dan mengucapkan salam.
Jika ada orang yang menyapa maka beliau akan berpaling dengan seluruh tubuhnya
menghadap orang yang menyapanya. Beliau juga sangat menjaga pandangan terhadap
laki-laki maupun perempuan. Rasulullah pun melarang berbaurnya laki-laki dan
perempuan di jalanan.
Sesungguhnya, sikap yang wajar dalam
berjalan, serta memalingkan wajah dan seluruh badan merupakan bentuk
penghargaan terhadap orang lain, hal ini juga yang akan menjauhkan manusia dari
permusuhan, bahkan sebaliknya akan menumbuhkan tali silaturahmi atau bahkan
menguatkan ikatan yang sudah terjalin. Kebiasaan menjaga pandangan, akan
menyelamatkan manusia dari kecelakaan yang bermula dari mata yang menyebabkan
nafsu syahwat. Begitu pun dengan larangan berbaurnya laki-laki dan perempuan,
hal ini akan menjauhkan dari perbuatan maksiat, memuliakan wanita dari
pelecehan dan kejahatan.
Sa'ad
bin Hisyam pernah bertanya kepada 'Aisyah rodhiAllahu 'anha tentang akhlak
Rasulullah, maka 'Aisyah rodhiAllahu 'anha menjawab, "Akhlak beliau adalah
Al Quran." Lalu Sa'ad berkata,
"Sungguh
saya ingin berdiri dan tidak lagi menanyakan sesuatu yang lain." (HR.
Muslim)
Oleh karena itu, Rasulullah merupakan sosok pribadi yang paling bagus akhlaknya seperti yang disaksikan oleh Anas bin Malik pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun-ketika beliau berkata;
Oleh karena itu, Rasulullah merupakan sosok pribadi yang paling bagus akhlaknya seperti yang disaksikan oleh Anas bin Malik pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun-ketika beliau berkata;
"Rasulullah
adalah orang yang paling bagus akhlaknya." (HR. Muslim)
Maka
pantaslah Rasulullah menjadi suri teladan bagi kita dalam segala aspek
kehidupan beliau shollAllahu 'alaihi wa sallam seperti yang telah diberitakan oleh
Allah dalam firman-Nya :
لَّقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ
اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pertemuan dengan) Allah dan (keselamatan di) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al Ahzab: 21)
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pertemuan dengan) Allah dan (keselamatan di) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al Ahzab: 21)
Dan
Rasulullah sendiri telah memotivasi umatnya yang beriman untuk berpegang teguh
dengan akhlak yang bagus dan menjauhi akhlak yang buruk, seperti dalam sabda-sabda
beliau berikut ini:
Dari
Abu Darda' bahwa Nabi bersabda:
((ما
من شيء أثقل في ميزان المؤمن يوم القيامة من حسن الخلق، وإن الله تعالى ليبغض الفاحش
البذيء))
"Tiada suatu perkara yang paling memberatkan timbangan (kebaikan) seorang mukmin pada hari kiamat selain daripada akhlaq mulia, dan sesungguhnya Allah amat benci kepada seorang yang buruk perbuatan dan ucapannya" (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh al Albani)
"Tiada suatu perkara yang paling memberatkan timbangan (kebaikan) seorang mukmin pada hari kiamat selain daripada akhlaq mulia, dan sesungguhnya Allah amat benci kepada seorang yang buruk perbuatan dan ucapannya" (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh al Albani)
Dari
Abu Hurairah bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak
memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab,
تقوى
الله وحسن الخلق
"Bertakwa
kepada Allah dan berakhlak mulia" Sementara ketika ditanya tentang perkara
yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab,
الفم والفرج
الفم والفرج
"Mulut
dan kemaluan" (HR. Tirmidzi dan dihasankan sanadnya oleh Syaikh Albani)
Dan Rasulullah menjelaskan bahwa mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling sempurna akhlaknya, seperti yang beliau sabdakan,
إن أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا، وخياركم خياركم لنسائهم
"Sesungguhnya mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling bagus akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya"(HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani)
Dan Rasulullah menjelaskan bahwa mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling sempurna akhlaknya, seperti yang beliau sabdakan,
إن أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا، وخياركم خياركم لنسائهم
"Sesungguhnya mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling bagus akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya"(HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani)
Bahkan
Rasulullah telah menjadikan orang-orang yang berakhlak mulia sebagai
orang-orang yang paling dekat duduknya dengan Rasulullah sebagaimana dalam
sabdanya :
إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحسنكم أخلاقا، وإن أبغضكم إلي وأبعدكم مني مجلسا يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون، قالوا: يا رسول الله، قد علمنا الثرثارون والمتشدقون فما المتفيهقون؟ قال: المتكبرون
"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya, dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah tsartsarun (yang banyak bicara), mutasyaddiqun (yang bicara sembarangan lagi mencela manusia) dan mutafaihiqun.” Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui tsartsarun dan mutasyaddiqun, tapi siapakah mutafaihiqun itu?" Rasulullah menjawab, "Mutakabbirun" (orang-orang yang sombong)." (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani)
إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحسنكم أخلاقا، وإن أبغضكم إلي وأبعدكم مني مجلسا يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون، قالوا: يا رسول الله، قد علمنا الثرثارون والمتشدقون فما المتفيهقون؟ قال: المتكبرون
"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya, dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah tsartsarun (yang banyak bicara), mutasyaddiqun (yang bicara sembarangan lagi mencela manusia) dan mutafaihiqun.” Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui tsartsarun dan mutasyaddiqun, tapi siapakah mutafaihiqun itu?" Rasulullah menjawab, "Mutakabbirun" (orang-orang yang sombong)." (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani)
Namun,
problem yang amat jelas kita lihat di dunia Islam sekarang yaitu bahwa umat
Islam telah meninggalkan akhlak mulia yang diseru oleh agama mereka sendiri
yang bersumber dari Al Kitab dan As Sunnah.
Kita
melihat bahwa agama Islam berada di suatu tempat dan kaum muslimin berada di
tempat lain yang berjauhan. Seorang muslim hanya membawa Islam pada nama dan
KTP-nya saja. Tetapi dalam praktek keseharian, muamalah dan seluk beluknya
tidak didapati nilai-nilai ajaran Islam yang mulia tersebut.
Arahan-arahan
Islam tidak berlaku, norma-normanya tidak memiliki tempat, dan kaidah-kaidah
Islam tidak lagi terhormat dalam diri mereka. Demikianlah kenyataan yang
memilukan yang menimpa umat Islam, yang semakin hari sepertinya semakin jauh
dan lalai dari mempraktekkan nilai-nilai agama mereka yang mulia, sehingga
pantas pula jika umat Islam mengalami berbagai bencana hari demi harinya,
kekalahan-kekalahan di setiap tempat mereka, serta ketertinggalan dari
umat-umat yang lain. Umat Islam sepertinya tidak lagi memiliki 'izzah
(kemuliaan dan kewibawaan) yang dapat membuat umat-umat lain segan kepada
mereka. Itu semua karena umat Islam tidak berpegang teguh dengan nilai-nilai
ajaran agama mereka. Benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab
إنا
كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العز بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله
"Kita dahulu adalah kaum yang terhina lalu Allah memuliakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan dengan selainnya niscaya Allah akan menghinakan kita"
(HR. Hakim dan ia berkata, "Shahih sesuai syarat/standar Bukhari dan Muslim”, dan disahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih at Targhib wa at Tarhib)
"Kita dahulu adalah kaum yang terhina lalu Allah memuliakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan dengan selainnya niscaya Allah akan menghinakan kita"
(HR. Hakim dan ia berkata, "Shahih sesuai syarat/standar Bukhari dan Muslim”, dan disahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih at Targhib wa at Tarhib)
Dan
kaum muslimin akan tetap berada dalam kehinaan selama mereka meninggalkan
ajaran-ajaran Islam yang agung lagi mulia dan cenderung mengikuti hawa nafsu
dalam meraih kemewahan dunia sampai mereka mau kembali kepada agama mereka.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
((إذا
تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا
لا ينـزعه حتى ترجعوا إلى دينكم))
"Apabila kalian berjual beli dengan 'inah (riba), memegangi ekor-ekor sapi dan senang dengan cocok tanam (yakni lebih condong kepada kesenangan dunia), serta meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan Allah cabut sampai kalian mau kembali kepada agama kalian."
(HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Syaikh Albani)
"Apabila kalian berjual beli dengan 'inah (riba), memegangi ekor-ekor sapi dan senang dengan cocok tanam (yakni lebih condong kepada kesenangan dunia), serta meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan Allah cabut sampai kalian mau kembali kepada agama kalian."
(HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Syaikh Albani)
Maka
sudah saatnya bagi kaum muslimin untuk bangkit dengan kembali kepada
ajaran-ajaran agama mereka yaitu Islam yang lurus, agar mereka dapat kembali
memperoleh 'izzah (kemuliaan dan kewibawaan) seperti yang telah diraih oleh
pendahulu mereka Salafus Shalih sehingga mereka akan menjadi umat yang kuat dan
kokoh yang disegani oleh umat-umat lainnya. Tentunya yang paling penting adalah
menggali kembali nilai-nilai mulia Islam tersebut dengan mempelajari Kitabullah
dan Sunnah Rasulullah serta sirah kehidupan Salafus Shalih yang telah
mewariskan jejak-jejak mulia yang harus kita telusuri dan ikuti, di antaranya
adalah warisan akhlak yang baik dan mulia. WAllahul Muwaffiq. (Dari Tauthi'ah
pentahkiq kitab Makarimul Akhlaq karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan perubahan-
Sifat apa saja yang perlu kita teladani dari sosok
Rasulullah Saw.?
Pertama,
shidiq yang artinya benar atau jujur dalam perkataan maupun perbuatan.
Kebenaran dan kejujuran adalah pilar utama kehidupan bermasyarakat. Allah Swt.
sendiri menyandingkan perintah bertakwa dengan perintah mengikuti orang-orang
yang bersifat shidq. Disebutkan dalam salah satu firman-Nya,“Hai orang-orang
yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang
yang benar.” (Q.S. At-Taubah [9]: 119)
Kejujuran
mengantarkan seseorang kepada kebaikan dan kebaikan mengantarkan kita pada amal
yang saleh. Sebaliknya, dusta mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan
mengantarkan kita pada kemudharatan. Orang beriman memang sudah semestinya
berkata benar atau (jika tidak dapat) lebih baik diam. Begitu nasihat Rasul
dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Kedua, amanah atau dapat dipercaya. Allah
Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya…” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 58). Amanah adalah ciri utama
orang beriman. Sebaliknya, dusta dan khianat adalah sifat orang munafik. Sifat
amanah niscaya penting dan menjadi tuntutan utama setiap profesi.
Ketiga,
tabligh yang artinya menyampaikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan dan
tidak menyembunyikannya). Perhatikan ayat berikut. “Hai Rasul, sampaikanlah apa
yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” (Q.S. Al-Maidah [5]: 67)
Keempat,
fathanah yang tidak lain adalah cerdas, cerdik, dan pandai. Kecerdasan dan kepadaian
(pencapaian derajat ilmiah) itu niscaya diperlukan, bahkan terpuji. Allah Swt.
berfirman, “…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Q.S.
Al-Mujadilah [58]: 11). Hanya saja, ilmu tersebut haruslah bermanfaat, terutama
untuk membangun bangsa dan negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur
(aman, damai, sejahtera, adil, dan beradab).
Bagaimana
seharusnya kita memulai program meneladani Rasulullah Saw. tersebut?
Sebelumnya, kita harus benar-benar paham tujuan meneladani Rasulullah Saw. Ditekankan sekali lagi bahwa tujuan pengutusan beliau adalah innama bu’itstu li utammima makarima al-akhlaq (untuk menyempurnakan akhlak yang mulia). Berikutnya adalah mendalami makna terdalam dari ajaran agama Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan sebagaimana yang dicontohkan Nabi Saw.
Sebelumnya, kita harus benar-benar paham tujuan meneladani Rasulullah Saw. Ditekankan sekali lagi bahwa tujuan pengutusan beliau adalah innama bu’itstu li utammima makarima al-akhlaq (untuk menyempurnakan akhlak yang mulia). Berikutnya adalah mendalami makna terdalam dari ajaran agama Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan sebagaimana yang dicontohkan Nabi Saw.
Meneladani
Rasul tidak cukup hanya dengan kata-kata. Meneladani Rasul harus tecermin dalam
kehidupan sehari-hari, di mana pun kita berada dan dengan siapa pun kita
berinteraksi. Allah Swt. memerintahkan kepada kita untuk mengikuti yang telah
dicontohkan oleh Rasul, mulai dari kegiatan di pagi hari hingga malam hari.
Mengapa? Tidak lain karena waktu adalah ibadah. Bagi seorang mukmin, tidak ada
sedetik waktu pun yang tidak memiliki nilai ibadah. Tidak mudah memang untuk
bisa meneladani Rasul secara utuh, tetapi bukan berarti kita putus asa.
Teladani Rasul mulai dari hal sederhana. Untuk menambah kecintaan dan kerinduan
kepada Rasul, kita perlu membaca risalah dan kisah perjuangan dakwah beliau.
Kita juga dianjurkan untuk membaca risalah keluarga dan para sahabat Rasul.
terimakasih, blog in sangat membantu
BalasHapusSubhanallah bravo !!!
BalasHapus